APBD Membuat Manfaat Besar untuk Kota

Posted on Updated on

Jurnal Bogor, 13 January 2010
Rubrik: Halaman Depan


Tambal Kebocoran Pajak

Seiring pengembangan Kota Bogor sebagai Kota Jasa, sasaran pajak dan kantung retribusi pun bertambah. Ini tentu mengembuskan angin segar bagi keuangan daerah, sehingga sangat diperhitungkan dalam merancang Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Kota Bogor 2010.
Dalam pendapatan daerah, potensi pajak dan retribusi Kota Bogor sebesar Rp 87.914.840.258. Itu berasal dari pajak sebesar Rp 51.792.257.084 dan hasil retribusi Rp 36.122.583.174. Potensi pendapatan tersebut perlu dikawal ketat dalam proses penghimpunannya, sehingga implementasi APBD 2010 benar-benar memenuhi harapan masyarakat. Terjadinya kebocoran dalam proses penghimpunan atau menguapnya potensi pendapatan masih mengancam APBD 2010. Tak profesionalnya aparat pemungut retribusi dan membandelnya wajib pajak, bisa terjadi sewaktu-waktu, sehingga harus benar-benar diawasi. “Ya, memang sangat memungkinkan terjadi, sehingga pengawasan harus semakin diperketat. Pemkot Bogor saya rasa terus melakukan pembenahan, sekaligus berusaha mengantisipasi ancaman tersebut,” kata Najamudin, anggota Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) DPRD Kota Bogor kepada Jurnal Bogor, kemarin.

Read More …

Najamudin: Pendingin Jenazah PMI Rusak

Posted on Updated on

VIVAnews — Rumah Sakit Umum (RSU) Palang Merah Indonesia (PMI) Kota Bogor, Jawa Barat, membutuhkan dana anggaran sebesar Rp 1,5 milliar untuk membeli alat pendingin mayat.

Ketua Komisi D, Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Bogor, Najamuddin, mengatakan saat ini alat pendingin mayat yang tersimpan didalam kamar jenazah RSU PMI Bogor sudah rusak.

“Jadi, untuk sementara ini RSU PMI Bogor tidak menerima kiriman mayat dari beberapa Polsek,” katnya, kepada wartawan saat melakukan kunjungan kerja Komisi D DPRD Kota Bogor di RSU PMI Bogor.
Read More …

NAJAMUDIN: MESIN PENDINGIN JENAZAH PMI RUSAK

Posted on Updated on

Bogor, Warta Kota

Aktivitas otopsi di RS PMI Kota Bogor sejak tiga bulan terakhir terganggu akibat rusaknya mesin pendingin jenazah di ruang forensik rumah sakit tersebut.

Petugas forensik RS PMI, Dedi Subandi, mengatakan daya tampung mesin tersebut dapat menyimpan 12 jenazah. Namun kerena rusak pihak RS PMI tidak berani menerima kiriman mayat tak dikenal.

“Dengan menggunakan mesin jenazah ini mayat dapat disimpan selama tiga hari, dan biasanya jika sudah 12 jam mayat akan mengeluarkan bau busuk,” ujarnya.

Read More …

Berita Kegiatan Ramadhan DPRA Cikaret.

Posted on Updated on

Untuk menyemarakkan datangnya bulan Ramadhan DPRA Cikaret Bogor Selatan menyelenggarakan berbagai kegiatan rohani. Kegitan itu dilaksanakan dalam empat gelombang.

Gelombang pertama pada tanggal 22 – 23 September 2007 yaitu :
– Sanlat Remaja Putra dan Putri RW 01 yang dilaksanakan di DKM Arisalah yang dihadiri oleh remaja dan anak-anak berjumlah 94 Orang.
– Ifthor Jama’I dilaksanakan di RW 01 tempatnya di DKM Ar-Risalah yang dihadiri oleh 94 orang Peserta dari peserta.
– Sanlat Tarwih Keliling yang dilaksanakan di RW 01 tempatnya DKM Ar-Risalah yang dihadiri sekitar 90 bapak – bapak dan Ibu –ibu.

Gelombang kedua pada tanggal 29 – 30 September 2007 yaitu :
– Sanlat Remaja Putra dan Putri RW 08 yang dilaksanakan di DKM As-Syifa’ yang dihadiri oleh remaja berjumlah 32 orang peserta
– Ifthor Jama’I dilaksanakan di RW 08 tempatnya di DKM As-Syifa’ yang dihadiri oleh 32 orang Peserta dari peserta Sanlat
– Tarling yang dilaksanakan di RW 09 tempatnya DKM Al-Husna yang dihadiri sekitar 20 Orang

Read More …

Reses Drh. Achmad Ru’yat, Anggota DPRD Tingkat 1 Jawa Barat

Posted on

Ru’yat jelaskanAnggota DPRD Tingkat I Jawa Barat Drh. Achmad Ru’yat kemarin mengisi masa resesnya dengan diskusi bersama warga masyarakat. Pada kesempatan yang lalu, 4 November 2007 di Rumah Makan Teras Air Tajur, giliran beliau berdiskusi dengan warga masyrakat Kecamatan Bogor Selatan. Didampingi oleh Anggota Legislatif Kota Bogor Daerah Pemilihan Bogor Selatan, Bapak Ahmadi Sukarno, Lc, M. Ag dan Najamudin, M. PdI, Bapak Drh. Achmad Ru’yat mengantongi sekian banyak usulan dan aspirasi dari warga masyarakat Bogor Selatan.

Dari sekian banyak aspirasi yang disampaikan, masih banyak yang berbicarafose bersama tokoh seputar kesulitan ekonomi, kesulitan mendapatkan pelayanan kesehatan yang murah bagi masyarakat, fasilitas publik yang sudah mulai rusak, seperti jalan-jalan, pelayanan birokrasi yang belum optimal.

Selain itu, dari acara yang dihadiri sekitar dua ratusan masyarakat ini juga terjaring beberapa usulan konsep pengembangan Kota Bogor  masa depan yang akan diemban oleh Pemerintah Daerah yang terpilih melalui Pemilihan Kepala Daerah di April 2008 kelak.

bersma pengurusDi tengah khidmatnya acara berlangsung, hadirin akhirnya harus menahan keharuan sekaligus kerinduan ketika salah seorang peserta (Habib Zahir Assegaf) memberikan nasihat dan memutar ulang ingatan kita tentang keadilan kepemimpinan yang diemban oleh seorang pemimpin besar bernama Umar Bin Khottob. Setelah jaring aspirasi yang kurang lebih berlangsung dua jam ini, akhirnya acara ditutup dengan doa oleh Habib Zahir Assegaf.

 

AHMADI BIN SUKARNO, Lc, M.Ag

Posted on Updated on

USTADZ HUMORIS YANG MENGERTI PASAR

BOGOR CERAH. Lalu Hntas di sepan-jang Jalan Kapten Muslihat tak begitu padat.Gedung DPRD Kota Bogor bisa dibilang sepi. “Kayaknya, masih banyak yangbelum ngantor” uja.r seorang wartawati Harian Radar Bogor di ruang lobi gedung Wakil Rakyat itu. la sendiri sedang menunggu salah seorang anggota Fraksi PKS yang sedang rapat.

Penulis yang punya kepentingan sama juga harus menunggu. Seperti diungkapkan wartawati tadi, gedung wakil rakyat itu memang terlihat sepi. Penulis tidak tahu apakah anggota DPRD lainnya sedang rapat juga seperti Fraksi PKS, atau memang mereka belum ngantor seperti dugaan wartawati tadi. Padahal, saat itu pukul dua siang menginjak hari kedua masa aktif kerja setelah Idul Fieri.Menjelang adzan Asar, Fraksi PKS mengakhiri ra-patnya. Ahmadi Sukarno yang menjadi incaran penulis nampak keluar dari ruangannya. “Kita shalat dulu ya! Nanti ngobrol di ruangKomisi B aja”ujar pria kelahiran Jepara 16 Maret 1968 itu. Pria yang dikenal ustadz humoris di rraksinya ini bertutur panjang tentang masa kecilnya. “Saya dulu sekolah dasar di dua tempat. Paginya di SDN Bategede Jepara, sore harinya di sebuah madrasah Diniyyah,” ujar Ahmadi Sukarno sambil mengaktifkan laptopnya. Sejak kecil, ia mengaku sudah biasa mandiri dan memirnpin. Sampai lulus SD dan Madrasah Diniyyah, ia sering membantu orang tuanya berternak kambing. “Seperti para Nabi yang biasa ngangon kambing” imbuhnya serius.

Pendidikan Ahmadi berlanjut ke Madrasah Tsana-wiyah as-Salafiyah Pati Jawa Tengah sekalian niondok di tempat itu.Tingkat Aliyah pun ia tuntaskan di tempat yang sama. Selama enam tahun mondok di pesantren dijalaninya secara bersahaja dan prihatin, ia masak dan mencuci pakaian sendiri. Sejak di Pondok pesantren ia sudah aktif di beberapa organisasi, di antaranya menjadi Ketua Santri Ponpes as-Salafiyah periode 1985 -1986.

Dari salah seorang alumni pesantren itu, ia men-dapatkan informasi tentang Lembaga Ilmu Pengetahuan Islam dan Arab (LIPIA) di Jakarta. Karena itu, setelah rnenamatkan tingkat Aliyah,Ahmadi berangkat ke Jakarta dan mengikuti tes masuk Perguruan Tinggi Cabang Universitas Islam Ibnu Saud Riyadh itu. la pun langsung diterima di tingkat II Program Persiapan Bahasa (I’dad al-Lughawi, red). Setelah itu ia melanjutkan ke Program Penyempurnaan (Takmili, red) selama satu tahun. Lulus dari program setingkat D3 itu,Ahmadi melanjutkan Program SI Syariah di Universitas yang sama dan lulus pada tahun 1994.

Ahmadi Sukarno termasuk di antara mereka yang menikah di usia dini yaitu pada usia ke 21 .”Saya menikah ketika masih aktif kuliah. Waktu itu saya di Tingkat II Fakultas Syariah,” ujar Ahmadi yang memilih Eva Mardiana sebagai pasangan hidup.Saat menikah, sang istri juga masih tercatat sebagai mahasiswa Institut Pertanian Bogor semester tiga.”sehingga, waktu wisuda, saya sudah punya putra tiga,” kenang Ahmadi. Begitu dilantik sebagai Wakil Rakyat di DPPvD Kola Bogor, Ahmadi langsung diposisikan di Komisi B. Ko-misi ini membidangi masalah Ekonomi, Keuangan daerah, Perdagangan & Perindustrian, Agribisnis dan BUMD (Badan Usaha Milik Daerah), ia menuturkan, komisi ini lebih banyak mengadvokasi permasalahan pasar milik Pemerintah Daerah dan masalah Pedagang Kaki Lima, sehingga ketika acara reses, kami jarang mendapat pertanyaan masalah-masalah yang terkait dengan Tupoksi Komisi B. Biasanya ketika reses, yang dipertanyakan oleh masyarakat adalah seputar pen-didikan, dana BOS, Kesehatan dan GAKIN (penanganan keluarga miskin) serta pembangunan jalan dan gedung.

Sebagai anggota Komisi B, Ahmadi ikut aktif mengadvokasi permasalahan PKL (Pedagang Kaki Lima). di sekitar Pasar Kebon Kembang, Jalan MA Salmun, Nyai Raja Permas dan Jalan Dewi Sartika.Juga mengadvokasi permasahan pedagang di pasar Kebon Kembang dan pasar Merdeka. Secara pribadi, Ahmadi juga sering menerima aspirasi dari masyarakat. Di antaranya, pelanggan PDAM yang tidak mendapatkan aliran air PAM secara lancar yang justru pada jam-jam sibuk air PAM tidak mengalir. Untuk kasus seperti ini, biasanya Ahmadi langsung menghubungi pihak PDAM. Alhamdulillah, air PAM lancar kembali. la mencontohkan, sms dari seorang ibu rumah tangga di kelurahan Baranangsiang yang baru PAM. Ujung-ujungnya tagihan rekening PAM melonjak” tutur Ahmadi, mengisahkan cerita warga Cikaret.Ahmadi juga sering mendapat sms dari pengendara mobil yang bekerja di Jakarta. Mereka mengeluh, setiap pukul 06.00 pagi terjebak macet di Jalan Juanda sepanjang depan Musium Zoologi sampaiTugu Kujang. Lagi-lagi penyebabnya adalah pedagang sayur yang menggelar dagangan di atas aspal. Inilah pasar di atas aspal terpanjang di Kota Bogor. Mendapat keluhan warga, Ahmadi langsung menelepon tim penertiban PKL dan Kepala SATPOL PP agar lalu Hntas di jalan tersebut lancar. Pada hari berikutnya, yang mengadu tadi mengirim sms rnenyatakan bahwa jalan depan Musium Zoologi lebih lancar dibanding sehari sebelumnya.

Bagi Ahmadi, bergelut di Parlemen adalah tugas baru. Kalau sebelumnya ia sering akrab dengan kitab-kitab kuning dan literatur berbahasa Arab, kini ia harus akrab dengan dunia pasar, Pedagang Kaki Lima dan kadang masalah kebutuhan air minum. “Ketika kuliah memang saya belajar sejarah pera-daban Islam, sejarah Nabi, dan Khulafaur Rasyidin. Tapi itu kan di literatur. Saat ini, saya secara langsung ikut menangani persoalan masyarakat Kota Bogor seperti kasus di atas,” papar Ahmadi. Namun demikian ia tak begitu merasa kesulitan. “Kita diamanahkan untuk tetap serius dan menjadi pembelajar cepat di mana pun kita bekerja. Insya Allah kalau kita serius dan tekun, kita akan mengerti dan bisa mengikuti,” ujar ayah lima anak ini yang masih menggunakan motor Honda keluaran Tahun 2001 sebagai alat transportasi sehari-harinya.Ahmadi menambahkan, ada memang Perda tentang penyelenggaraan pasar. Pasar modern jaraknya harus empat kilometer dari pusat kota. Sayangnya, keberadaan pasar modern seperti mall ada sebelum perda itu lahir. “Izin pendirian mal itu jauh lebih awal,” ungkapnya.Ahmadi juga masih menantikan hadirnya perda perdagangan di Kota Bogor. Saat ini perda perdagangan belum ada. Para pengusaha kecil banyak yang mengeluhkan keberadaan hypermart. Mereka mengkha-watirkan kehadiran hypermart dapat mematikan para pedagang kecil. Terkait masalah ini, Ahmadi menekankan agar Pemkot melakukan pengendalian sesuai peraturan yang ada. Melalui Harian Radar Bogor, Ahmadi pernah mengimbau pengelola hypermart agar tidak menjual komoditinya kepada konsumen secara eceran tapi secara grosir seperti makro, sehingga pedagang eceran masih dapat berjualan dengan harga wajar.Bahkan boleh jadi para pedagang eceran bisa menjadi pelanggan hypermart “Dengan demikian, kehadiran hypermart bukan menjadi ancaman bagi pedagang kecil, tetapi mereka bisa menjadi mitra yang harmonis dan saling menguntungkan,” imbuhnya.

Dalam Perda Penyelenggaraan Pasar diatur “jika luas efektif bangunan pasar di atas 4.000 m2 (empat ribu meter persegi) haras berjarak radius lebih dari 2500 m dari pasar lingkungan dan harus terletak di sisi jalan kolektor atau jalan arteri.Juga dalam perda tersebut diatur mengenai jam operasional pasar modern. Waktu pelayanan penyelenggaraan pasar modern dimulai pukul 09.00 Wm sampai pukul 22.00 WIB.”Inilah salah satu bentuk pengendalian kita terkait dengan hadirnya pasar modern di Kota Bogor,” ungkap Ahmadi.

Terkait dengan pendapatan daerah, komisinya sering rapat kerja dengan Dispenda (Dinas Pendapatan Daerah) dan dinas-dinas incomer lainnya tentang progress raport pendapatan daerah, apakah sudah memenuhi target atau belum, mana saja yang lancar dan yang kurang lancar. Juga mendiskusikan mengenai strategi peningkatan pendapatan. la mencontohkan bagaimana bisa mengoptimalkan pendapatan dari pajak parkir, restoran dan hotel terutama pada hari-hari libur panjang. la menyadari pengawasan dalam masalah ini masih lemah. Yang berwewenang mengawasi dan mengaudit secara intensif menurut perundang-undangan adalah Bawasda dan BPK. Menurutnya, dewan secara keseluruhan harus solid dalam memerankan Tupoksi-nya secara amanah. Motivasinya menjadi Wakil Rakyat adalah untuk membela kepentingan rakyat, bukan menjadi pembela kepentingan eksekutif apalagi menjadi pedagang politik. Parlemen bukan tempat mencari kekayaan tapi untuk memperjuangkan kemaslahatan masyarakat. la juga mengharapkan wakil rakyat lebih mena-jamkan dan mengefektifkan fiingsi kontroling terhadap pelaksanaan pembangunan yang didanai dengan uang rakyat. Kontrol tidak bisa tajam dan obyektif, jika ada wakil rakyat yang ikut bermain proyek. Dewan menurut Ahmadi, harus independen tidak tergoda dengan uang dan kekuasaan.Yang jelas menjadi Wakil Rakyat ada suka dan du-kanya. Tugas-tugas dan pekerjaan yang harus dilaksanakan ternyata cukup berat. Bukan seperti sebutan orang -orang selarna ini bahwa kerjaan aleg itu hanya 4 D ( Datang, Duduk, Diam, Duit). Seorang ibu rumah tangga nienuturkan, “Anggota DPRD sekarang lebih aktif dan aspiratif dan berani bersuara lantang walaupun sering mendapat hujatan, makian dan celaan.”Namun demikian ada juga masyarakat yang mengerti dan meniahami bahwa para aleg telah bekerja keras. Di antara mereka ada yang masih menghargai keberadaan DPRD sebagai bagian penyelenggara pemerintahan yang perlu rnendapat dukungan dan partisipasi aktif dari masyarakat. Jika dilihat kehidupan sehari-hari para aleg, mereka hidup bersahaja, sederhana dekat dan peka dengan kondisi masyarakat. Masih ada di antara mereka yang mengendarai sepeda motor tua ketika bertugas, kadang basah kuyup kehujanan, bau keringat jalanan.

Namun itu semua tidak mengurangi peran dan fungsinya sebagai Wakil Rakyat untuk bekerja serius sesuai dengan tupoksinya. la berharap tetap bisa rnenjalankan amanah dan istiqamah serta bisa berbuat adil untuk sesama.

Sumber : Dai Parlemen Bersih, Serius dan Merakyat Pustaka al-Bustan 2006

PEMUDA DAN PERADABAN

Posted on Updated on

oleh: Najamudin

img_3923.jpgSiang itu di sebuah restoran cepat saji dengan merek terkenal dari sebuah nama kota di Amerika Serikat, sekolompok anak muda sedang asyik bercengkrama di sebuah meja, yang hampir semua meja terisi penuh oleh sebagian besar anak-anak muda. Malam itu di sebuah mal terlihat anak-anak muda terlihat antri di depan sebuah bioskop yang memutar film terbaru dari hollywood, di hari yang lain terlihat sekelompok anak muda sedang asyik mengikuti alunan musik cadas berbahasa asing yang sedang di mainkan sekelompok anak muda lainnya dari atas panggung.

Untuk memperingati hari besar nasional sebuah organisasi kepemudaan mengadakan pagelaran wayang golek semalam suntuk yang manampilkan dalang yang sangat terkenal, walaupun acara tersebut diperuntukan bagi anak muda guna membangkitkan kecintaan mereka atas budaya negeri sendiri namun kebanyakan yang hadir adalah orang tua. Di lain waktu pergelaran tarian tradisional yang di adakan sebuah mall untuk memperingati ulang tahun mall tersebut terlihat begitu sepi penonton.

Bukankah dua fenomena diatas akhir-akhir ini sering kita temui? Apa yang ada dalam pikiran kita ketika melihat hal tersebut. Siapakah yang salah ketika melihat anak-anak muda kita lebih mengagumi produk-produk yang datang dari luar sementara sepertinya malu dan merasa minder dengan produk dan budaya negeri sendiri. Kenapa hal tersebut bisa terjadi bukankah dari mulai bangku sekolah dasar hingga perguruan tinggi kita selalu di tanamkan rasa cinta tanah air, di ajarkan betapa kayanya negeri ini akan seni budaya yang beraneka ragam, sudah hilangkah rasa bangga akan budaya negeri sendiri di kalangan generasi muda kita atau jangan-jangan generasi muda kita sudah kehilangan jati diri mereka sebagai sebuah aset bangsa yang besar sehingga lebih bangga dengan budaya negeri lain.
Memperingati sumpah pemuda penulis mencoba sedikit mencermati hal-hal di atas untuk mencari jawaban kenapa hal tersebut terjadi dan bagaimana mencari solusi agar generasi muda kita kembali mencintai hasil budaya negeri sendiri.

Setidaknya ada beberapa hal yang menyebabkan generasi muda kita lebih condong kepada produk-produk luar negeri di bandingkan negeri sendiri, hal-hal tersebut antara lain;
• Globalisasi
• Media kemasan
• Hilangnya jati diri bangsa

GLOBALISASI
Saat ini tidak satupun negara di dunia ini yang tidak terpengaruh oleh globalisasi dunia, kemajuan teknologi saat ini menyebabkan kita dapat mengetahui peristiwa di negara lain pada waktu yang sama di saat peristiwa itu terjadi. Kemajuan teknologi tersebut di satu sisi membawa dampak positif tapi di sisi lain ada juga sisi negatif yaitu masuknya faham-faham atau ajaran dan sistem hidup negara lain ke dalam negeri ini yang belum tentu sesuai dengan budaya bangsa kita. Apalagi tidak adanya filter yang cukup di kalangan generasi muda kita sehingga semua budaya yang masuk di terima utuh tanpa mempertimbangkan apakah itu sesuai dengan jati diri bangsa kita atau malah sebaliknya.

Maka lihatlah betapa generasi muda kita terbiasa dengan gaya hidup yang menjadikan barat sebagai kiblat, dari mulai cara berbusana, gaya hidup yang konsumtif, dan yang lebih parah adalah tata cara pergaulan yang cenderung bebas norma. Mereka seperti tersihir oleh hal-hal yang datang dari barat sehingga rasanya tidak adanya rasa canggung melakukan perbuatan-perbuatan yang melanggar norma budaya dan agama.

Di satu sisi tidak adanya upaya maksimal dari negeri ini untuk membentengi generasi muda kita dari serbuan budaya asing baik dari tingkatan yang paling rendah yaitu keluarga sampai pada tingkatan paling tinggi yaitu pemerintah. Sekarang ini pendidikan mengenai budaya bangsa dan norma agama semakin berkurang di lingkungan sekolah kalaupun ada hanya sedikit sekali dan juga di lakukan dengan apa adanya sehingga timbul rasa bosan di kalangan generasi muda kita ketika mempelajarinya, untuk itu di perlukan metode-metode yang menarik sehingga generasi muda kita lebih tertarik untuk mempelajari budaya negeri sendiri.

MEDIA KEMASAN
Salah satu faktor keberhasilan dari masuknya budaya asing ke dalam negeri ini adalah media kemasan yang sangat luar biasa, bagaimana mereka mengemas suatu produk yang tadinya biasa saja menjadi luar biasa, bagaimana mereka membuat budaya mereka menjadi seakan-akan menjadi kebudayaan yang paling modern sehingga generasi muda kita merasa ketinggalan jaman ketika tidak mencontoh mereka.

Bukankah ayam goreng yang ada di restoran cepat saji itu sama dengan yang ada di warung-warung makan tradisional kita, tetapi mengapa ada perasaan bangga kalau kita makan di sana. Apakah semua anak muda kita mengerti apa yang di ucapkan oleh kelompok musik dari luar negeri di bandingkan dengan mendengarkan lagu-lagu yang di lantunkan oleh penyanyi negeri sendiri seperti lagu-lagu yang sudah mulai banyak dantrend seperti lagu nuansa dan syair ke-islaman, bukankah belum tentu pantas pakaian yang mereka pakai apabila di pakai oleh kita, tetapi karena di kemas dalam kemasan yang luar biasa sehingga generasi muda kita merasa bangga melakukannya. Belum lagi dengan cara-cara hidup mereka yang sebenarnya tidak sesuai dengan norma budaya dan agama kita tetapi sekali lagi karena di kemas dengan kemasan menarik sehingga seakan-akan menjadi sesuatu yang membanggakan.

HILANGNYA JATI DIRI BANGSA
Mungkin kalau kita tanya kapan sumpah pemuda itu diadakan masih banyak anak-anak muda kita yang bisa menjawabnya tetapi kalau kita tanya apa pelajaran yang di dapat dari peristiwa tersebut maka boleh jadi banyak yang tidak mengerti. Ketika kita menanyakan kapan hari pahlawan pasti mereka dapat menjawabnya tetapi tahukah mereka apa nilai kepahlawanan yang bisa diterapakan di kehidupan mereka sekarang pasti mereka bingung menjawabnya. Itulah yang terjadi di generasi muda kita saat ini mereka seperti kehilangan jati diri, kehilangan kebanggaan dengan bangsa sendiri, sehingga seperti generasi yang mudah di ombang-ambing, generasi muda yang tidak punya pendirian. Hal ini sangat membahayakan apabila tidak di antisipasi sejak sekarang karena boleh jadi suatu saat nanti mereka bukan hanya tidak peduli akan budaya dan warisan kebangsaan tetapi juga dengan keutuhan bangsa dan negara, karena lihatlah walaupun kita adalah bangsa yang merdeka tetapi sesungguhnya telah terjadi penjajahan secara perlahan dari segi peradaban terhadap negeri ini.

Setelah memperhatikan hal-hal di atas maka penulis mencoba memberikan sedikit masukan bagaimana keadaan seperti itu tidak terus terjadi dan bagaimana menjadikan generasi muda menjadi cinta terhadap budayanya sendiri dan bangga akan jati dirinya sebagai bangsa yang besar.
Salah satu cara untuk manamkan rasa bangga dan cinta terhadap budaya dan peradaban negeri sendiri adalah mengubah paradigma dan metode penanaman cinta terhadap budaya bangsa ini. Ketika globalisasi tidak bisa di hindari maka kita sebagai bangsa harus mamanfaatkan globalisasi untuk menanamkan rasa cinta terhadap budaya dan peradaban bangsa sendiri. Kalau dahulu hingga kini mungkin nilai-nilai budaya ditanamkan dengan cara yang membosankan seperti pelajaran-pelajaran di sekolah yang hanya bersifat doktrin dan teoritis maka kita harus merubahnya agar menyenangkan dan dijadikan suatu kebutuhan akan pentingnya mengenal budaya kita.
Kita boleh belajar bagaimana dunia barat menjadikan peradaban mereka menjadi sesuatu yang menarik untuk di pelajari maka masuklah kita pada bagian bagaimana kita mengemas nilai budaya dan peradaban kita semenarik mungkin dan di sesuaikan dengan perkembangan jaman. Bagaimana membuat generasi muda kita menjadi antusias mempelajari nilai-nilai budaya dan peradaban bangsanya. Kita harus mengemas nilai-nilai budaya dengan kemasan yang tidak membosankan bagi mereka dan disesuaikan dengan cara-cara mereka mempelajari peradaban barat lewat globalisasi. Mungkin kita bisa memasukan sedikit unsur asing dalam seni budaya kita, misalnya membuat pagelaran wayang golek dengan bahasa inggris atau memasukan irama rap berbahasa indonesia sebagi pendukung pagelaran tersebut. Dan masih banyak cara-cara lain yang bisa dilakukan agar generasi muda kita tertarik dan merasa bangga ketika mereka mempelajari dan menggunakan budaya dan peradaban bangsa sendiri. Mintalah masukan pada mereka karena biasanya anak-anak muda lebih kreatif dalam mengembangkannya yang terpenting adalah bagaimana nilai-nilai budaya itu tetap terjaga dan terwarisi walaupun di kemas dalam bahasa anak muda.